FIKIH TRAVELlING

Bepergian dari satu tempat ketempat lain atau dari satu daerah ke daerah lain bahkan dari satu negara ke negara lain (nomaden) bagian dari pola hidup masyarakat dari zaman ke zaman. Melakukan bepergian biasanya didasari untuk keperluan dan kepentingan; menyambangi keluarga, sahabat dan kerabat (silaturrahim), kunjujgan kerja, bisnis atau sekedar melakukan traveling mengunjungi situs-situs sejarah, baik dalam atau luar negeri.

Bagi penduduk Indonesia, khususnya masyarakat Jabodetabek hidup paska beropesianya MRT akan menjadi contoh nyata jika gaya hidup nomaden akan semakin menjadi pilihan. Aktifitasnya menuntut seseorang melakukan bepergian.

Sejatinya melakukan bepergian dari satu tempat ketempat yang lain tidak dilarang dalam Islam. Hanya saja Islam memberikan aturan agar bepergian itu memiliki pesan ibadah, minimal tidak melanggar syariah. Allah Swt berfirman;

سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

“Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa (QS. An-Naml : 69). Islam mengajarkan sebelum melakukan bepergian sunah membaca doa terlebih dahulu. Rasulullah Saw bersabda;

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)’” (HR. Abu Daud)

Jangan Meninggalkan Shalat Saat Bepergian
Ketika bepergian orang Islam mendapat dispensasi _(rukhshoh)_ untuk mengumpulkan dua sholat dalam satu waktu _(jamak)_ atau meringkas _(qoshor)_ rakaat sholatnya yang semula empat menjadi dua rakaat.
Allah SWT berfirman di dalam Surat An-Nisa’ ayat 101;

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

Artinya, “Ketika kalian bepergian di bumi, maka bagi kalian tidak ada dosa untuk meringkas shalat.”

Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah pada saat melakukan berpergian, seperti yang diceritakan dalam sebagian riwayat;

جَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ سَفَرٍ وَلا خَوْفٍ، قَالَ: قُلْتُ يَا أَبَا الْعَبَّاسِ: وَلِمَ فَعَلَ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ

Nabi Saw. pernah menjamak antara shalat Dzuhur dan Ashar di Madinah bukan karena bepergian juga bukan karena takut. Saya bertanya: Wahai Abu Abbas, mengapa bisa demikian? Dia menjawab: Dia (Nabi Saw) tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya.” [HR. Ahmad]

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ

“Bahwa Rasulullah Saw. jika berangkat dalam bepergiannya sebelum tergelincir matahari, beliau mengakhirkan shalat Dzuhur ke waktu shalat Ashar; kemudian beliau turun dari kendaraan kemudian beliau menjamak dua shalat tersebut. Apabila sudah tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, beliau shalat dzuhur terlebih dahulu kemudian naik kendaraan. [Muttafaq ‘Alaih]

Cara Shalat Saat Bepergian
Dalam Islam saat beribadah Allah Swt tidak selalu memberikan hukum yang berlaku permanen. Allah memberikan keringanan (rukhsoh);

تغير الحكم من صعوبة إلى سهولة لعذر مع قيام السبب الحكم الأصلي

Perubahan hukum dari hal yang sulit menjadi mudah karena adanya udzur beserta dilandasi sebab hukum asal. Misalnya, dalam waktu dan kondisi tertentu, pada saat bepergian shalat dzuhur yang semestinya dilaksanakan 4 rakaat bisa diringkas (qoshor), menjadi 2 rakaat atau mengumpulkan (jamak) dua shalat dalam satu waktu. Inilah satu pesan firman Allah Swt;

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ

“dan Dia (Allah) tidak akan menjadikan kamu sekalian kesempitan dalam urusan agama.” (QS. Al-Haaj: 78).

Jarak tempuh seorang boleh meng-qoshor sholatnya harus memenuhi atau mencapai perjalanan 16 farsakh. Ulama ada yang mengatakan 88 Km, 80 Km, 64 Km, 94,5 Km. Jika seorang selalu melakukan bepergian, maka status hukum shalat dan puasanya adalah; shalatnya lebih utama dikerjakan secara sempurna (tidak diringkas/qoshor). Sedangkan untuk puasanya bila ada harapan lain mengganti (qadlo) puasanya di hari lain maka boleh tidak berpuasa. Tetapi bila harapan tersebut tidak ada maka tidak boleh membatalkan puasanya (isfthar);

وخرج بقولنا ولم يختلف فى جواز قصره .من اختلف فى جواز قصره كملاح يسافر فى البحر ومعه عياله فى سفينة ومن يديم السفر مطلقا كالساعى فإن الاتمام افضل له خروجا من خلاف من اوجبه كالإمام احمد رضي الله عنه.

“Dikecualikan dari penuturan kami (mushannif) dan tidak terjadi perbedaan ulama tentang kebolehan meringkas (qoshor) shalat bagi seorang musafir. Orang yang di perselisihkan ulama tentang kebolehan mengqoshor shalatnya seperti seorang pelaut yang selalu berlayar bersama keluarganya dalam kapal atau orang yang selalu bepergian seperti seorang pengusaha maka menyempurnakan sholat (tidak mengqoshor) baginya lebih utama agar terhindar dari perbedaan pendapat ulama yang mewajibkan menyempurnakan shalat baginya seperti pendapat Imam Ahmad.

وقال السبكي : بحثا ولا أي ولا يجوز الإفطار لمن لا يرجى زمنا يقضي فيه لإدامته السفر أبدا وفيه نظر ظاهر فالأوجه خلافه.

“Imam Subki berpendapat tidak diperkenankan membatalkan puasa bagi orang yang tidak punya harapan diwaktu lain untuk mengganti _(qodlo)_ karena terus menerus bepergian, dalam hal ini ada perbedaan pendapat yang lebh benar adalah kebalikannya” (At-Tuhfah, juz III halaman 430).

Adapun untuk sholat jamak-qoshor bagi orang yang rekreasi maka dalam pandangan Mafzhab Hambali tidak boleh men-jamak atau meng-soshor shalatnya. Sedangkan menurut kalangan Syafiiyah tetap diperbolehkan untuk melakukan jamak atau qoshor sholat, sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Mughni juz II, halaman 100 atau Nihayatul Muntah juz 4, halaman156. Wallahu A’lamu.

Penulis: KH. Abdul Muiz Ali (Pengurus Lembaga Dakwah PBNU)
Editor: Abdus Saleh Radai